Al imam “masjid tengah” Karimun

Akhirnya saya berkenalan dengannya. Imam masjid tengah Tanjung Balai Karimun. Kita sebut saja begitu karena saya lupa nama tepat masjidnya. Yang saya ingat betul justru nama yang meresmikan : Soeharto, dari Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila 🙂

Saya pertama kali bertemu Imam ini sebelum Ramadhan. Saat jamaah Isya. Suratul Fatihah yang pertama sukses membuat saya menunduk. Lantunannya sederhana namun syahdu. Mungkin bagi orang yang khusyuk, bacaan seperti apapun selama tajwidnya benar tidak akan menjadi masalah, namun bagi orang awam seperti saya, ini adalah anugerah.

“Assalamu ‘alaikum. Saya Wildan, apa ustad ada waktu?” serobot saya menghentikan langkahnya keluar masjid. Sesaat ia terkejut. Namun sedetik kemudian senyum tulusnya mengembang saat tawaran jabat tangan saya di terimanya. Wajahnya teduh dan malu-malu.

“Ya. Saya Fulan* . Silahkan :)” katanya mempersilahkan. Kami pun duduk di dalam masjid. Tanpa basa basi saya langsung mengutarakan tujuan saya untuk belajar Al Quran dan bahasa Arab. Ia mendengarkan dengan penuh perhatian sebelum akhirnya menggeleng. “Sayang sekali, di Karimun ini masih belum ada yang khusus begitu mas. Kalau di Batam banyak” jawabnya. “Tapi kalau bahasa Arab, mungkin bisa dengan guru MAN, nanti saya kenalkan kalau mas mau. Orangnya sering jamaah disini juga” sambungnya. “Kalau boleh tahu, untuk apa belajar bahasa Arab?” tanyanya kemudian. “Banyak ustad, tapi yang paling utama adalah agar dapat mengartikan Al Quran” jawab saya jujur. Bisa mengartikan dengan benar saja akan merupakan gift bagi saya.

Saya kemudian memuji bacaan Alqurannya yang langsung dijawabnya : “Terima kasih, mas sudah menjalankan perintah Rasul” katanya sambil tersenyum. “Perintah yang mana ustad?” jawab saya bingung. “Kata Rasul, apabila engkau menyukai sahabatmu, maka ungkapkanlah, niscaya akan menambah kasih sayang diantara kalian”. “Tapi cintailah karena Allah, bukan hanya karena bacaan yang indah. Bacaan ini hanya perantara saja”. Jawaban yang mengena sekali pikir saya.

Perbincangan kami kemudian berlanjut ke hal-hal lainnya. Mulai dari tertundanya keberangkatannya ke Yaman karena perang dan tempat hafalan Al Quran di Thailand. Dari kabar yang ia dengar, di Thailand ada tempat khusus yang mengajarkan metode menghapal Al Quran dengan lebih cepat. Metode orang buta. Saya sendiri belum menggali lebih jauh tentang kabar ini karena informasi yang terbatas.

Yang membuat saya terkejut dan malu, ternyata ia masih berusia 22 tahun. MasyaAllah. Jauh lebih muda dari saya. Di umur sedemikian muda, sudah menjadi imam utama masjid tengah, hafal Al Quran dan sudah menikah setahun yang lalu. Khusus untuk menikah ini, dengan bercanda ia meminta maaf kepada saya karena duluan menikah 🙂

Dalam hati saya bersyukur, ternyata Karimun, dengan segala pikuk dunia malamnya, masih menyimpan sumber mata air menyegarkan bagi jiwa ini. Semoga Allah selalu mencurahkan hidayah dan rahmatNya bagi Imam masjid tengah. Amin Alhamdulillah.

*Maaf saya samarkan namanya. Silahkan hubungi saya jika ada yang ingin berkenalan langsung 🙂

Idanisme

Bapak (baru) satu putra yang kadang kadang nulis.

2 thoughts on “Al imam “masjid tengah” Karimun

  1. ^_^
    pasti di southern thai ^^

    mas, kok di atas tombol share nya ada link ads kayak virus? pake bahasa thai juga. itu mas wil yg nambahin ta?

    1. Southearn Thailand ya. Mungkin disitu dik. Sayangnya banyak kejadian extremist disana ya?

      Ads?aku ga pernah nambahin. Mungkin browsermu nampilinnya beda?

Leave a Reply to Tika Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s